Oleh: yukez | Januari 17, 2009

Cerpen : Aku Rela Kau Bahagia


Aku rela, kau bahagia sedih

“Inilah kegilaan ketika aku mesih saja mengingatmu. Masih saja memikirkanmu, meskipun kau telah jauh meninggalkanku dengan kebahagiaan yang selama ini kau cari.”Aku menutup undangan bercorak hijau daun itu dengan perasaan meranggas.

Mengakhiri ungkapan hatiku yang sempat tertulis diatasnya.“Kau akan datang?” Tanya Melia sang pengantar undangan, sekaligus sohib kentalku. Aku mengangkat kedua pundakku tanda penuh kebimbangan. Dan dia tak ada jawaban lagi.Dua hari lagi kau akan mengenakkan gaun itu, gaun yang kita pilih bersama waktu itu.Mudahnya kau mengkhiri pertunangan kita, hanya karena sebuah alasan yang tak jelas. Apa yang tak kau mengerti tentang aku??, tidakkah cukup perkenalan kita selama 2 tahun. Bahkan aku sudah lebih mengenalmu melebihi bagaimana aku mengenalku sendiri.

Air mata mulai menetes lagi dan membuatku jengkel. Sedikit saja air mataku menetes, selalu saja tampak lain di mataku. Dan itu akan menimbulkkan kecurigaan ibu.“Kau masih memikirkan Fitri?”. Dan aku tak pernah bisa menjawab karena itulah kenyataannya. Aku tak pernah bisa menghapus namanya sedetikpun meskipun penuh dengan rasa kebencian. Aku sadar, akulah yang terlalu bodoh dengan semua ini. Dengan mudahnya percaya seorang wanita pecundang sepertimu. Mengapa aku bisa tertipu pada kalimat yang indah pada sms, atau suara merdumu ketika kita berbicara lewat perantara kabel.

“Mengapa kau tak datang??” Aku terdiam, pertanyataanmu penuh kekonyolan, setelah semua yang kau lakukan padaku.“Mengapa, den..?”“Aku tahu kamu sakit hati, tapi andai kamu tahu aku lebih sakit dari apa yang kau rasa.”“Bolehkah aku bertemu, sekali lagi saja.”“Untuk apa ?!”“Untuk kembali menambah lukaku yang hampir meluber karena tak sanggup aku tampung lagi!!”“Den, maafkan aku. Aku tak sepicik yang kau kira.”“Aku tak pernah berfikir kau picik !”“Kau…kau…,kaulah wanita paling ………. yang pernah aku kenal”

“Hmmmmpf…percuma, kau sebegitu membenciku. Betapa aku sangat ingin bertemu denganmu.”“Tak usah !!!” aku menekan tombol merah. Aku memutuskan hubungan telepon itu secara sepihak. Dan menelungkupkan wajahku dalam bantal, mencoba menyembunyikan muka kesalku. Bagaimana mungkin disaat kau merasakan kebahagiaan karena pernikahanmu yang baru saja usai, kau mengatakan ingin bertemu denganku. Terbuat dari apakah hatimu, hingga bisa setega itu. Tak salah kata-kataku tadi yang mengatakan, kaulah wanitapaling……….. yang pernah aku kenal.Gaun yang kau kenakan mungkin belum sempat kau tanggalkan. Senyuman para tamu dan hangatnya ucapan selamat masih belum berhenti, namun mengapa kau malah menghubungiku. Apa salahku ya Allah, mengapa begitu berat kau kirim cobaan ini.

Betapa aku ingin melupakannya, namun mengapa ia justru datang mengacaukannya.“Huuhuaa…”“Eeegh..ghhh…” Aku tak peduli lagi, jika ada yang menertawakanku gara-gara kecengenganku ini. Kecengeng untuk laki-laki yang tak lagi berusia muda karena 3 bulan lagi usiaku genap 30 tahun.“Huhu….”“Kapan aku akan menikah…”“Huhuhuu…”“Kapan aku kan ketemu jodohku ya Allah…”“Huhu…., eghh…eghh…” sesak ini semakin lama semakin tak tertahan meski aku coba untuk menghentikan.

Aku harus melupakannya. Dan harus mulai dari awal lagi. Aku harus jadi Deni yang kuat. Upss..namaku Deni, . Nama panggilanku pertama kali ketika aku mencoba berkenalan denganmu. Tak ada yang perlu aku sembunyikan, termasuk statusku sebagai Bujang tua. Dan kau menerimanya tanpa penolakan sedikitpun. Namun kau menolak setelahnya, setelah aku benar-benar menumpahkan rasa sayangku sepenuh hatiku.

Ughh…mengapa aku mengulang cerita itu lagi.Aku mulai, menghapus memory inboxku, sms sejak pertama kali kita menjalin perkenalan. Aku tak berani membacanya, aku trauma mengingatnya lagi. Seperti ketakutanku, tak bisa melupakanmu. Dan aku takut merasakannya lagi, mungkinkah ada wanita lain yang baik tersisa untukku, seorang bujang tua.Ughh..aku tak tahu lagi betapa beratnya, menanggung status itu. Belum lagi ibu dan bapakku.

Tuhan…..Aku memandang sekeliling kamarku, takkan kubiarkan satu wajahmu nongol di depan mataku. Melihat wajahmu sama saja aku melihat hantu paling menakutkan yang aku takuti selama ini.“Ihhh….ihhh..” aku mengambil dengan jijik sebuah foto yang terpajang tepat diatas ranjangku. Membongkarnya piguranya, dan kudapati fotoku dengan senyum manis tepat disamping manusia wanita berwajah mak lampir itu. Foto waktu kita bertemu untuk ketiga kalinya di sebuah taman hiburan.“Sebenarnya kamu cantik….” Aku tersenyum, melihat wajah  manis dengan kulit kuning langsat dan tubuh yang tegap semampai.“Huekkk…”aku tak boleh mengaguminya. Aku tak boleh buta lagi karena wajah itu. Andai waktu itu Tuhan membuka mataku untuk menatapnya lebih jelas, mungkin fotoku disampingnya bukan tersenyum manis, tapi terbelalak histeris.“Haha….”aku tertawa, lucu. Perlahan aku memotong foto itu. Memisahkan wajahku dengan wajah mak lampir itu. Aku menyimpan sebelahnya dan memotong kecil-kecil hantu itu seakan-akan dia ada didepanku. Terserah mau sakit, mau meringis, masa bodoh…Apa kabar dengan fotoku yang ada padanya?. Mungkinkah akan mengalami nasib yang sama, atau mungkin lebih parah. Apalagi jika ditemukan suaminya.“Ughhh…ughhh…”aku mengelus wajahku, tak tega jika wajahku  ini harus kena api, jangan ya…“Deniiii…….”  Aku mengernyit, panggilan untukku?“Deniii…….” Ternyata memang betul. Ada instruksi dari ibu pasti. Dan aku bergegas mencari sosok ibu. Mungkin saja di dapur.“untukku…?!!!” tanyaku heran, ketika sebuah Kotak kecil biru terulur untukku.Deggg…..bukankah biasanya Fitri yang selalu mengirimkan sesuatu dengan bungkus warna biru , warna favoritku. Apakah ini juga dari Fitri?. Aku tersadar untuk segera bertanya.“Dari siapa?” ibu menggeleng tak tahu.Aku mencari kertas kecil berisi memo yang biasanya selalu diletakkan dipangkal pohon ini.“Maafkan aku…”“Uggh….!!!” Aku mendengus kesal, dan meletakkan serampangan.              Meskipun kau berikan aku sebuah kotak bingkisan warna biru sebesar kapal titanic, kata maaf tak juga bisa aku berikan untukmu…

Aku masih asyik, didepan layar monitorku. Mengedit laporan keuangan yang belum sempat aku selesaikan kemarin di kantor. Seharusnya liburan seperti ini, aku menikmatinya. Namun aku telah kehilangan selera untuk menikmatinya. Aku memilih mengerjakan apapun agar rasa sepi yang seringkali menemaniku terasa berkurang. Bram juga menemaniku. Maklum sama-sama jojoba…..,hmmm…“Den…” “oh ya den…” Aku tak meninggalkan sedikit pandanganku dari layar untuk merespon panggilannya. Dan ia lama untuk meneruskan panggilan itu, mungkin saja pikirannya masih asyik dengan majalah dipangkuannya itu.“Kamu tahu ga suaminya Fitri ?” Sasongko” aku heran  untuk apa dia tanyakan itu, tak lagi penting untukku. Meski 2 bulan lalu sebelum mereka menikah, Bram juga hampir menunjukkan karakteristiknya. Dan masih seperti kemarin, Aku menganggap itu tak penting lagi, dan aku tak peduli..“Dia sakit kanker…”“Whattt….” Tiba-tiba tanganku memencet huruf itu sehingga terbaca di layar dan aku menghapus setelah sadar. Aku menoleh, mencari keterangan lebih lanjut.“Sakit…?!”“Ya….”“Dari mana kamu tahu,“Sudah lama…”“Mengapa kau tak mengatakan padaku waktu itu ““Bukankah katamu itu tak penting?” aku mencibir menyadarinya.“Sudah hampir 2 minggu dia di rumah sakit?” “Ya, maksudku….abdi gimana?”“Emang penting ya, kok aku mesti tahu…” kali ini aku mencibir, karena sadar Bram telah mengejekku.“Apa Sasongko ga tahu ya kalau Fitri sakit?” tanyaku sendiri, bengong.“Apa….?!’“Ulangi kata-katamu tadi, suaminya Fitri ..bukan …!!” aku tersenyum.“Ya maaf aku kan salah ngomong, habisnya aku kan ga tahu namanya siapa?’“Emang penting ya?” Meila tersenyum. Sekali lagi mengejek.“terserah, mau istrinya yang sakit, atau Fitri yang sakit, bodoh amat….!!”“bener nich, kalau Fitri yang sakit, kamu ga akan Bunuh diri…”“Eh, mengapa kita malah tertawa melihat orang dapat bencana…” tiba-tiba Bram menjadi seorang malaikat sok bijak.“Ya udah…..”“Semoga …”“Bahaagiaaa…..” ucapku dengan nada tak ikhlas.

Bersambung……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: